Sabtu, 27 Agustus 2011

The Finished Book III

28 Oktober, Malam
Ada rapat akbar FDW, Festival Dwiwarna yang rutin dijalankan setiap tahun sekali. Dan itu acara yang besar banget di Dwiwarna. Dan kita sempat mojok sekitar 5 menitan di tiang masjid (waktu itu rapatnya di masjid). Dia dengan sangat blak-blakan mengutarakan perasaannya.
Padahal di siang harinya dia mau nembak aku begitu nganterin aku pulang ke aspi, sampe pake nulis kerangka kalimat segala. Tapi aku nolak karena aku pikir masa pdktnya terlalu cepat, aku belum bisa sayang banget sama dia. Temen-temennya cerita, tapi dengan kejamnya aku malah bilang "Lagi nunggu tanggal yang bagus, hehe.", begitu temen-temen dan kakak kelas nyorakin Fasya nyuruh nembak aku.
F: "Tal, gue sayang banget sama lo."
T: (Hening)
F: "Lo mau nggak jadi pacar gue?"
Waktu itu, aku lagi ada di dekat Nieta, temen dekatku yang tau gimana perasaanku sama Fasya. "Yaudah terima aja Ta!"
Lalu, aku berbalik badan.
F: "Jadi.. gimana Ta?"
T: "Ya." sambil tersenyum lebar.
Lalu dimulai lah masa-masa indah yang ketka berakhir menggoreskan luka yang sangat dalam itu.

The Finished Book II

21 Oktober, Malam
Waktu itu diadakan pensi di lapangan basket semi-indoor bawah yang deket sama kolam renang. Banyak alumni yang hadir, karena kita kedatengan The Black Jasmine, salah satu band metal scream yang lagi naik daun. Waktu itu aku goblok banget, make baju yang sama dengan panitia, warna item-item. Dan dia pake baju item juga waktu itu. Siapa lagi kalau bukan Fasya, dan aku ingat Andika juga pakai baju warna item. Aku sempet nyapa mereka berdua, tapi aku lengketnya sama Fasya. Kita foto bareng, dan jalan kemana-mana bareng semaleman. Sampe dia mau nganterin aku ke asrama putri, ritual orang yang berpacaran atau lagi ngenes-ngenesnya pdkt.
Temenku sempet ngeliat hal yang sangat ganjil karena nggak biasa-biasanya Fasya deket segininya sama cewek. dan malam itu pula aku ditembak sama kakak kelasku. Tapi maaf, aku nggak punya rasa sama dia, jadi aku tolak. Itu semua karena aku tenggelam dan hanyut dibawa Fasya.

The Finished Book

Oktober 2010
Aku mencoba sangat sok akrab sama Fasya. Sebenernya bukan mencoba, ataupun berusaha, tapi dengan secara sangat tidak sengaja. Aku nggak tahu kalau perbuatanku bisa sampai sejauh ini. Padahal aku juga akrab dengan Andika. Waktu itu aku juga seperti memberikan harapan palsu ke kakak kelas, dengan perbuatan itu seutuhnya tanpa kumaksud.
Aku dan temanku sering ngobrol, siapakah teman yang paling ganteng di angkatan. Ada yang menjawab Nanan, Viki dan segala macem. Tapi aku malah jaweb Fasya, Fasya dan Fasya.
Padahal aku yakin dulu dia nggak seganteng sekarang. Tapi tetep ada yang unik di dalam cowok keturunan Tionghoa itu. Matanya sangat sipit malah bisa dibilang merem, hobinya tidur, dan suaranya aneh.
Waktu itu lagi masa-masanya Class Meeting, pertandingan olahraga persahabatan antar kelas, daerah maupun pulau. Kita sering saling sapa dan ngobrol. Ngobrol cuma sekali sih, itupun di tengah keramaian. Aku masih inget banget. Waktu itu kita obrolin bahan yang bener-bener nggak penting.


Jumat, 26 Agustus 2011

You

i always wanna be with you
whenever and wherever you and i are
because the music in our souls are always connected
you're the guitarist and i'm the singer
complete the imperfection to perfect with our pieces of puzzle
you are beautiful you are perfect
there's no such thing as sweet as you are
you're black like a mahogany tree
you're strong like a steel
you're soft and caring like a cotton
you're smart like an owl
and you're sweet like you, yourself

i like it the way it is
don't ever change, because i love you just the way you are
and if you change, i'll kill you